Pages

Ads 468x60px

Tuesday, January 10, 2012

Opiniku tentang Humanistic studies,,,

Semula saya mengira bahwa mata kuliah ini sama seperti pelajaran PPKN alias Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. Hanya namanya saja yang berubah. Kalau masalah topik sepertinya tidak jauh berbeda. Toh, masih menyangkut permasalahan tentang keberagaman budaya, agama dan suku bangsa di Indonesia. Tapi sepertinya persepsi saya selama ini salah besar. Mata kuliah ini benar-benar berbeda dengan persepsi saya sebelumnya dan banyak pelajaran yang dapat saya ambil selama mengikuti mata kuliah ini.

Secara keseluruhan, topik yang disajikan dan didiskusikan dalam kelas sangat berkaitan dengan kehidupan nyata. Sebagian besar membahas isu-isu tentang agama dan sosial budaya yang notabene sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, dan juga mempelajari bagaimana kita harus menyikapi permasalahan dan perbedaan- perbedaan yang ada sebagai konsekuensi hidup dalam masyarakat yang heterogen. Seperti yang kita ketahui, banyak sekali konflik-konflik yang terjadi yang mengatasnamakan agama, budaya atau ras tertentu yang mungkin dapat membuat kita juga terkena imbasnya. Risih mendengarnya dan hal tersebut membuat saya selalu tergelitik untuk terus ingin tahu dan tahu lebih banyak lagi mengapa terjadi hal – hal yang demikian. Menarik dan cukup menantang bagi mahasiswa seperti saya yang haus akan ilmu dan hidup dalam lingkungan yang serba heterogen ini. Secara pribadi, saya merasa terbantu dengan adanya mata kuliah ini. Selain membantu saya untuk lebih jeli terhadap isu isu tersebut, juga membantu saya untuk melihat segala permasalahan yang terjadi bukan dari sudut pandang saya saja sebagai pengamat tetapi juga belajar melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Dari mata kuliah ini pulalah, saya pun mulai bisa menerima segala perbedaan yang ada di sekeliling saya terutama dalam hal perbedaan agama dan suku bangsa sebagai suatu hikmah dan bukanlah penghalang untuk mewujudkan kehidupan yang nyaman, aman dan harmonis. Dulu saya sulit menerima keadaan saya yang harus berinteraksi dan hidup diantara orang orang yang mempunyai latar belakang serta karakter yang berbeda karena di dalam mindset saya sudah tertanam sterotype tertentu tentang mereka. Sempat muncul rasa tidak nyaman dan saya memilih untuk memberikan beberapa batasan dalam berinteraksi dan bergaul dengan mereka. Mungkin inilah salah satu tujuan dari adanya mata kuliah ini. Kini saya bisa membuka pikiran saya bahwa bukan berarti orang yang berbeda dari kita baik itu agamanya atau budayanya atau suku bangsanya lebih buruk dari apa yang kita pikirkan. Mereka mempunyai hak untuk dihargai dan kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada mereka untuk menyamakan pikiran supaya mereka menjadi seagama, sesuku atau sebudaya dengan kita. Justru perbedaan-perbedaan yang ada tersebut indah dan akan menjadikan kehidupan ini lebih berwarna layaknya pelangi yang tetap berwarna warni dengan catatan bahwa apabila kita bisa mengelola perbedaan tersebut dengan baik. Tuhan saja berkendak untuk menjadikan umatnya untuk berbeda, mengapa kita manusia selaku ciptaanya mempermasalahakan perbedaan tersebut?

Kedepannya saya berharap semoga mata kuliah ini tidak hanya menjadi media bagi para mahasiswa terutama saya dalam menambah wacana tentang isu-isu agama dan sosial budaya yang kerap menjadi bahan perbincangan di kalangan umum, namun juga dapat menjadi media bagi untuk beropini dan menyamakan persepsi sehingga pada akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan dan solusi atas semua permasalahan yang terjadi. Untuk durasi pengajaran mungkin bisa ditambah lagi. Mengingat dari pengalaman yang sebelumnya, saya rasa waktu 1.5 jam itu sangatlah singkat untuk membahas suatu topik secara mendalam. Terkadang dari waktu yang sesingkat itu, saya kurang mendapatkan esensi dari topik yang dibahas dan saya bingung harus mengambil keputusan yang seperti apa karena tidak ada penyelesaian serta kesimpulan yang didapat di akhir pembelajaran. Untuk metode pembelajaran, saya rasa sudah bagus. Mungkin hanya akftifitas –aktifitasnya saja yang dibuat lebih bervariasi supaya mahasiswa tidak jenuh dan tertarik untuk mengikuti setiap sesi dari perkuliahan ini.

Wednesday, December 7, 2011

Dan ketika aku percaya bahwa Tuhan itu ada

Sebagai makhluk tuhan yang beragama, saya percaya dan mengimani bahwa Tuhan itu ada dan Dia-lah zat yang maha kuasa lagi maha sempurna. Memang sulit dijelaskan dengan logika bila harus mengupas tentang detail sosok Tuhan tersebut dan alasan mengapa harus percaya pada Tuhan padahal secara harfiah Dia tidak berwujud dan tak terlihat. Namun sekali lagi, bila berbicara tentang keimanan seseorang, logika tak kan mampu lagi bekerja. Dalam hal mengimani keberadaan tuhan, saya hanya berpedoman pada kitab suci al-quran dan hadist. Dijelaskan bahwa Tuhan (Allah SWT) itu wujud yang berarti ada (Medy, 2005). Jadi mustahil kalau saya sampai mengganggap bahwa Tuhan itu tidak ada.

Meskipun indera penglihatan tidak dapat melihat-Nya, namun saya masih bisa merasakan ciptaanNya dan adanya bumi, alam semesta dan pergerakannya inilah yang menjadi salah satu bukti tentang keberadaan Tuhan itu sendiri. Bahwa tanpa Tuhan sebagai pengendali alam semesta ini, mustahil bila bumi, matahari dan benda – benda langit lainnya akan berputar pada garis edarnya begitu juga dengan pergantian antara malam dan siang dimana malam akan datang sebelum siang mendahuluinya. Saya meyakini keberadaan Tuhan seperti saya meyakini benda- benda tak terlihat lain seperti molekul, gelombang radio maupun electromagnet dan benda-benda langit yang jaraknya milyaran hingga triliunan cahaya. Mereka ada, namun panca indera manusialah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaanya. Dan bagaimana saya sampai sekarang bisa ikhlas menyembah Allah SWT karena semata-mata saya percaya bahwa Allah SWT itu ada.

Berbicara tentang Tuhan, tentunya tak lepas dari peran agama sebagai sarana untuk lebih mengenal siapa Tuhan sesungguhnya melalui konsep Tuhan yang ada didalamnya. Tuhan menurut definisi yang saya yakini adalah Dia yang Esa (hanya satu-satunya) dan bukan terdiri dari suatu susunan pangkat dewa-dewa mulai dari raja Dewa sebagai Dewa yang tertinggi, maupun Dewa yang terendah seperti yang dinyatakan oleh Taylor selaku bapak Antropologi yang mengemukakan teori tentang jiwa (Moeis, S.,2008). Selain itu, Dia adalah pencipta yang maha kuasa lagi maha tahu dan juga penentu takdir dan hakim alam semesta.

Adapun konsep ketuhanan yang saya yakini adalah yang tidak membatasi suatu kelompok tertentu dan seruan Tuhan menyeluruh untuk semua manusia pada persamaan dan persaudaraan tanpa peduli ras, agama dan latar belakang. Konsep Tuhan yang dibawa oleh agama bukanlah produk dari nenek moyang manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi seperti pendapat Freud dan Durkheim (Putranto, H., 2007). Mengapa demikian? Menurut saya, ketika kita telah meletakan keimanan kepada Tuhan berarti kita telah meyakini kebenaran yang datang dariNya. Dan karena saya seorang muslim, saya meyakini kebenaran hanya datang dari Allah SWT yang disampaikan lewat utusannya yaitu Rasululah SAW dimana kebenaran tersebut bukanlah versi pemikiran manusia atau warisan nenek moyang. Saya juga meyakini bahwa Tuhan itu maha sempurna, Dia telah merancang alur kehidupan manusia sedemikian rupa dan membuat konsep etika yang kita kenal sebagai akhlak yang telah ditetapkan untuk menjadi pedoman dalam perilaku kehidupan umat manusia untuk mengarungi fenomena dan keanekaragaman realitas.

Lantas, bagaimanakah saya menangkap kehadiran Tuhan itu sendiri? Secara harfiah memang tidak secara langsung berpapasan ataupun berjabat tangan untuk merasakan kehadiran Tuhan. Namun, perlu diingat bahwa Tuhan telah mengaruniai hati yang dapat digunakan untuk merasakan kehadiranNya dan melalui hati inilah, sebenarnya kita dapat merasakan, melihat dan mendengar apa yang tidak dirasakan, dilihat dan didengar oleh panca indera. Dan dengan mengaktifkan fungsi hati ini, saya bisa merasakan nikmatnya berkenalan dan berdialog dengan Tuhan ketika hati ini benar-benar terfokus padanya. Kehadiran Tuhan sangat nyata bagi saya. Dia selalu menyapa dan mengingatkan untuk selalu berbuat kebaikan demi keselamatan saya baik di dunia maupun di akhirat.

Sekali lagi memang wujudnya tak tampak, namun seruan dan ajakan yang selalu mengajak untuk berjalan di jalan yang benar menjadi bukti bahwa Dia selalu hadir dalam setiap detik langkah perjalanan hidup ini dan terus mengawasi hambaNya sebagai wujud cinta dan kasihNya. Sebuah refleksi bahwa jangan sampai kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati sebagai pengawalnya, karena apabila hati ini tertutup bercak hitam maka kita tidak akan mampu mengenal Tuhan dan hal tersebut akan membuat jiwa semakin kosong tanpa arah dan tujuan yang jelas seiring dengan rohani ketuhanan yang semakin kering dan mengikis.

Daftar Pustaka

Moeis, S. (2008). Religi sebagai salah satu identitas budaya (Tinjauan antropologis terhadap unsur kepercayaan dalam masyarakat) (makalah, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia). Diunduh tanggal 6 Desember 2011 dari http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/195903051989011-SYARIF_MOEIS/MAKALAH__9.pdf

Medy. (2005, Desember 24). Wahdatul wujud vs pantheisme [Web log post]. Diunduh tanggal 6 Desember 2011 dari http://herdiana.blog.com/tag/about-tuhan/

Putranto, H. (2007, Februari 6). Peran agama dalam arena dunia modern: tercampak atau hadir kembali? [Web log post]. Diunduh tanggal 6 Desember 2011 dari http://hendar2006.multiply.com/journal?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal

Monday, October 31, 2011

My truly identity

What do you think of me? Absolutely, there are some statements that people will say about me. They are free and I don’t have a right to forbid them to speak and give their opinion or just give their judgments to me. But, sometimes I realized that what people said doesn’t reflect on my truly personal identity. It is such a misunderstanding on my behave and as a human, I just try to tolerance with that and try to understand that it’s all about what others see to me and it makes me different with others.

When I was child, I was still confused with my personal identity. When people asked me to describe who I am, I was still confused to answer the question. I just said what my parents often said to me that “my name is Himmatul ‘aliyah , I’m muslim and I’m Javanese”. That was the point. And because I lived in Java and also as a Javanese, I had to speak in bahasa jawa to show my identity. As known that there are 2 java language levels. Jawa ngoko and jawa karma. It is quite difficult to me if I have to use the rules of both language levels. Fortunately, I live in the era of Indonesia’s independence which requires people to live in democracy and not feudal again. So that my parents let me to use the language level which is comfortable for me and still polite if it is used in public.

Then, it was the time I go to school. My identity was growth and changed as time as goes by. I have learned that I live in Indonesia and just realized that java is located in Indonesia. And absolutely, because the motto of this country is “Bhinneka Tunggal Ika”, as a citizen of Indonesia, no matter with our religion, culture and the ethnicity, we are taught to unite it the name of nation, namely Indonesia. But in fact, it was a just a motto and no impact on some people. I saw that the religious identity was the most powerful in living in society even in everywhere. Sometimes I asked my heart why religion makes people is treated unfairly? Why does religion make people put the bulkhead and the society is left to form their own group? Then, I decided to love my nation in my own way. I still do love Indonesia although it is not entirely related with my expectation. And now, I decided to love in peace, no fight and have a tolerant attitude in dealing with the other cultures and religions.

I’m very grateful to live among the people who respect and uphold the diversity. I like the way those who think that the diversity is not an obstacle to make the life of prosperous, safe and peaceful based on goals of nation. Now, I have found my truly personal identity and I feel comfortable with that. And I’ve already if people asked question to me about “who I am”. I will say that I am Himmatul ‘Aliyah, the person without any community identity, always uphold with the diversity and obedient to God. I just looked at every human being as a human being with a human identity as God’s creation without religious boundaries, ethnic or national boundaries. I suppose that all people have the same position with me. I really respect with them and hopefully they will do the same to me :)

That’s all my reflection of my personal identity. How about you?

 

Sample text

Sample Text

accessories-animation.blogspot.com

Sample Text